Senin, 11 Juni 2012

Someone Like You - Song 2

Diposting oleh Ziadatul Akmal di 20.48
Yah, seandainya kejadian itu nggak pernah ada ...

Hari itu adalah hari pertama sekolah di SMPN 1 Margahayu dan seperti sekolah pada umumnya di hari pertama, semua penghuni kelas memperkenalkan diri mereka masing-masing termasuk wali kelas. Waktu itu aku hanya diam dan memperhatikan  satu persatu yang maju, walaupun begitu pikiranku mengarah kepada hal yang lain.
“Ya, selanjutnya Zia Kezia, silahkan maju dan perkenalkan dirimu.” Ujar Bu Wuryan sambil tersenyum dan berusaha mencari-cari sosokku yang waktu itu memang tak menonjol di kelas. Aku berdiri dan dengan langkah tak bersemangat aku maju ke depan kelas.
Sesampainya di depan kelas aku memperkenalkan diriku. Simple, hanya siapa aku, apa nama panjang dan nama panggilannya, lalu darimana sekolah asalku, dan hal-hal sepele lainnya seperti berkata, “Mohon bantuannya untuk tiga tahun ini.” Lalu aku pun membungkukkan badan seperti orang Jepang ketika mereka memperkenalkan diri mereka. Maklumlah, aku kan sering melihat hal seperti ini di dalam komik-komik dan aku pun menirukannya.
Setelah itu aku berjalan kembali menuju tempat dudukku. Sekilas aku melihat, diantara mereka ada yang mengerutkan dahi, seakan asing dengan cara aku memperkenalkan diri. Aku hanya bisa terkekeh di dalam hati melihat wajahnya. Kalau nggak salah dia tuuuh Savira bukan ya? Oh iya! Mari Savira. Cewek yang berambut ikal panjang dan sedikit lebih gemuk dari perempuan kebanyakan di kelas ini. Ujarku dalam hati.
Ku lihat Bu Wuryan menutup buku absen setelah aku duduk kembali di bangkuku yang berada dipaling belakang dan paling pojok sebelah kanan. “Hmm, ya hari ini acara perkenalan dirinya sudah selesai. Dan sekarang kita akan tentukan siapa saja yang akan menjadi KM, WaKM, Sekretaris, …”
“Ssst!” disela-sela Bu Wuryan berbicara, tiba-tiba ada yang berbisik ke arahku  dan aku pun menoleh kearahnya. Ternyata dia teman sebangkuku sendiri. Diaaa Audika Pratama gitu ya? Hmmm lupa!
“Namamu unik ya. Lucu! Aku suka. Jarang-jarang aku mendengar nama bagus seperti milikmu.” Katanya, masih dengan berbisik tanpa sedikitpun melihat kearahku.
Aku tak tahu harus berbicara apa setelah ia berkata seperti itu. Aku berusaha untuk menatap matanya, agar aku tahu bahwa ia sedang berkata jujur. Namun aku tak bisa, karena ia sedang focus melihat ke depan kelas. Lalu, aku mencoba untuk mengira-ngira bahwa ia sedang tidak berbicara kepadaku, tapi kenyataannya semua orang sibuk dengan kesibukannya sendiri, dan hanya aku dan dia yang mempunyai kesibukkan berbeda.
Dengan mengerutkan dahi, aku memperhatikan wajahnya. Terlihat jelas matanya sempat melirik kearahku lalu menoleh dan melihatku yang mengerutkan dahi. Seakan mengerti pikiranku, ia berkata, “Ya, aku lagi ngomong sama kamu.” Katanya lalu memalingkan wajah lagi, sekilas kulihat ia mengangguk pelan.
“Ooohh,” gumamku, lalu, “Makasih ya.” Aku hanya bisa bilang terimakasih dan sekali lagi ia mengangguk sambil sedikit tersenyum, masih tanpa melihat kepadaku sedikitpun.
Jujur, waktu itu adalah kali pertama namaku dipuji dan aku senang sekali. Tapi, hari itu aku belum punya perasaan apa-apa padanya. Karena aku masih menganggapnya hanya sebagai pujian biasa. Namun, kepeduliannya membuatku jatuh hati pada saat itu juga.
GUSRAK!
Hari itu adalah hari Jum’at, tepatnya adalah hari kelima sebagai siswa baru di sekolah ini. Di pagi hari aku dan teman-teman sekelas ada pelajaran olahraga. Dan dengan sukses aku terjatuh saat lari keliling lapangan untuk pemanasan. Aku pun terduduk manis di pinggir lapangan. Aku hanya bisa meringis kesakitan lalu melihat lututku yang berdarah. “Aduuuh!” ringisku pelan.
Tiba-tiba terdengar ada sesorang yang menghentikan larinya dan ia berkata, “Kamu nggak apa-apa?”
Aku sedikit mendongak untuk melihat siapa yang baru saja bertanya kepadaku. Ooh ternyata si Dika. “Nggak apa-apa kok. Cuma luka kecil. Hahaaha, yuk lanjut lagi larinya.” Aku berusaha berdiri, namun rasa sakit yang kurasakan membuat kebohonganku terbongkar.
“Aduh!” sontak aku langsung memegangi kembali lututku yang berdarah.
“Ayo kita bilang ke bapak, kalau kamu butuh betadine. Cepat!” ujarnya lalu menarik lengan kananku. Langkah besarnya membuatku meringis sekali lagi. Tanpa kupinta, ia sedikit melambatkan langkahnya setelah mendengar ringisanku.
Melihat sikapnya membuat aku merasa tak ada yang bisa kubohongi didepannya. Ia selalu bisa membaca pikiranku. Waktu itu juga, waktu ia memuji namaku. Namamu unik ya. Lucu! Aku suka. Jarang-jarang aku mendengar nama bagus seperti milikmu. Entah mengapa aku kembali teringat terhadap ucapannya di hari pertama masuk sekolah.
Dia baik dan peduli. Aku suka. Eh? Akuuu suka padanya? Ya ampun! Aku hanya bisa menutup mulutku dengan telapak tangan kiriku. Dengan langkah yang pincang, aku mencoba untuk melihat wajahnya. Namun, lagi-lagi ia tetap fokus melihat ke depan sambil menarik lengan kananku.
Pada saat itu juga, aku sadar bahwa aku suka dirinya. Tak hanya karena ia baik dan peduli, tapi semuanya, setiap hal kecil darinya kusuka. Yah kusuka dirinya.
*****
Hanny dan Kezia tak menyadari bahwa diluar sana tamu tak diundang sedang berjalan menuju kelas 9A. Yah, mereka tak menyadari akan suara langkah sang tamu tak diundang yang semakin mendekati kelas 9A. 

to be continued

0 komentar:

Posting Komentar

 

The Official Ziadatul Akmal Blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review