Hari itu adalah hari pertama sekolah di SMPN 1 Margahayu
dan seperti sekolah pada umumnya di hari pertama, semua penghuni kelas
memperkenalkan diri mereka masing-masing termasuk wali kelas. Waktu itu aku
hanya diam dan memperhatikan satu
persatu yang maju, walaupun begitu pikiranku mengarah kepada hal yang lain.
“Ya, selanjutnya Zia Kezia, silahkan maju dan perkenalkan
dirimu.” Ujar Bu Wuryan sambil tersenyum dan berusaha mencari-cari sosokku yang
waktu itu memang tak menonjol di kelas. Aku berdiri dan dengan langkah tak
bersemangat aku maju ke depan kelas.
Sesampainya di depan kelas aku memperkenalkan diriku. Simple,
hanya siapa aku, apa nama panjang dan nama panggilannya, lalu darimana sekolah
asalku, dan hal-hal sepele lainnya seperti berkata, “Mohon bantuannya untuk
tiga tahun ini.” Lalu aku pun membungkukkan badan seperti orang Jepang ketika
mereka memperkenalkan diri mereka. Maklumlah, aku kan sering melihat hal seperti
ini di dalam komik-komik dan aku pun menirukannya.
Setelah itu aku berjalan kembali menuju tempat dudukku.
Sekilas aku melihat, diantara mereka ada yang mengerutkan dahi, seakan asing
dengan cara aku memperkenalkan diri. Aku hanya bisa terkekeh di dalam hati
melihat wajahnya. Kalau nggak salah dia
tuuuh Savira bukan ya? Oh iya! Mari Savira. Cewek yang berambut ikal panjang
dan sedikit lebih gemuk dari perempuan kebanyakan di kelas ini. Ujarku
dalam hati.
Ku lihat Bu Wuryan menutup buku absen setelah aku duduk
kembali di bangkuku yang berada dipaling belakang dan paling pojok sebelah
kanan. “Hmm, ya hari ini acara perkenalan dirinya sudah selesai. Dan sekarang
kita akan tentukan siapa saja yang akan menjadi KM, WaKM, Sekretaris, …”
“Ssst!” disela-sela Bu Wuryan berbicara, tiba-tiba ada
yang berbisik ke arahku dan aku pun
menoleh kearahnya. Ternyata dia teman sebangkuku sendiri. Diaaa Audika Pratama gitu ya? Hmmm lupa!
“Namamu unik ya. Lucu! Aku suka. Jarang-jarang aku
mendengar nama bagus seperti milikmu.” Katanya, masih dengan berbisik tanpa
sedikitpun melihat kearahku.
Aku tak tahu harus berbicara apa setelah ia berkata
seperti itu. Aku berusaha untuk menatap matanya, agar aku tahu bahwa ia sedang
berkata jujur. Namun aku tak bisa, karena ia sedang focus melihat ke depan
kelas. Lalu, aku mencoba untuk mengira-ngira bahwa ia sedang tidak berbicara
kepadaku, tapi kenyataannya semua orang sibuk dengan kesibukannya sendiri, dan
hanya aku dan dia yang mempunyai kesibukkan berbeda.
Dengan mengerutkan dahi, aku memperhatikan wajahnya. Terlihat
jelas matanya sempat melirik kearahku lalu menoleh dan melihatku yang
mengerutkan dahi. Seakan mengerti pikiranku, ia berkata, “Ya, aku lagi ngomong
sama kamu.” Katanya lalu memalingkan wajah lagi, sekilas kulihat ia mengangguk
pelan.
“Ooohh,” gumamku, lalu, “Makasih ya.” Aku hanya bisa
bilang terimakasih dan sekali lagi ia mengangguk sambil sedikit tersenyum,
masih tanpa melihat kepadaku sedikitpun.
Jujur, waktu itu adalah kali pertama namaku dipuji dan
aku senang sekali. Tapi, hari itu aku belum punya perasaan apa-apa padanya.
Karena aku masih menganggapnya hanya sebagai pujian biasa. Namun, kepeduliannya
membuatku jatuh hati pada saat itu juga.
GUSRAK!
Hari itu adalah hari Jum’at, tepatnya adalah hari kelima
sebagai siswa baru di sekolah ini. Di pagi hari aku dan teman-teman sekelas ada
pelajaran olahraga. Dan dengan sukses aku terjatuh saat lari keliling lapangan
untuk pemanasan. Aku pun terduduk manis di pinggir lapangan. Aku hanya bisa
meringis kesakitan lalu melihat lututku yang berdarah. “Aduuuh!” ringisku
pelan.
Tiba-tiba terdengar ada sesorang yang menghentikan
larinya dan ia berkata, “Kamu nggak apa-apa?”
Aku sedikit mendongak untuk melihat siapa yang baru saja
bertanya kepadaku. Ooh ternyata si Dika. “Nggak
apa-apa kok. Cuma luka kecil. Hahaaha, yuk lanjut lagi larinya.” Aku berusaha
berdiri, namun rasa sakit yang kurasakan membuat kebohonganku terbongkar.
“Aduh!” sontak aku langsung memegangi kembali lututku
yang berdarah.
“Ayo kita bilang ke bapak, kalau kamu butuh betadine. Cepat!”
ujarnya lalu menarik lengan kananku. Langkah besarnya membuatku meringis sekali
lagi. Tanpa kupinta, ia sedikit melambatkan langkahnya setelah mendengar
ringisanku.
Melihat sikapnya membuat aku merasa tak ada yang bisa
kubohongi didepannya. Ia selalu bisa membaca pikiranku. Waktu itu juga, waktu
ia memuji namaku. Namamu unik ya. Lucu!
Aku suka. Jarang-jarang aku mendengar nama bagus seperti milikmu. Entah
mengapa aku kembali teringat terhadap ucapannya di hari pertama masuk sekolah.
Dia baik dan peduli.
Aku suka. Eh? Akuuu suka padanya? Ya ampun! Aku
hanya bisa menutup mulutku dengan telapak tangan kiriku. Dengan langkah yang
pincang, aku mencoba untuk melihat wajahnya. Namun, lagi-lagi ia tetap fokus
melihat ke depan sambil menarik lengan kananku.
Pada saat itu juga, aku sadar bahwa aku suka dirinya. Tak
hanya karena ia baik dan peduli, tapi semuanya, setiap hal kecil darinya
kusuka. Yah kusuka dirinya.
*****
Hanny dan Kezia tak menyadari bahwa diluar sana tamu tak
diundang sedang berjalan menuju kelas 9A. Yah, mereka tak menyadari akan suara langkah
sang tamu tak diundang yang semakin mendekati kelas 9A.
to be continued

0 komentar:
Posting Komentar